Petani pun Punya Senjata Baru Atasi Wereng
Serangan
hama wereng batang coklat atau Nilaparvata lugens hampir selalu
merepotkan para petani padi. Pasalnya, selain menimbulkan dampak yang
besar hingga gagal panen, hama ini juga berperan sebagai pembawa virus
kerdil pada tanaman padi. Kini petani tidak perlu khawatir lagi, karena
telah ada paket pestisida antiwereng yang memadukan dua bahan aktif
sekaligus dalam satu paket produk.Sekitar tujuh tahun yang
lalu, hamparan padi di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten
Jepara, Jawa Tengah terserang hama wereng coklat yang cukup parah.
Kecuali Haji Sahlan, hampir semua petani di desa tersebut mengalami
gagal panen.
“Alhamdulillah kita masih
bisa panen 80 persen,” terang Haji Sahlan saat ditemui Abdi Tani di
kediamannya. Ia sendiri memiliki lahan padi seluas 15 bahu (sekitar 10,5
ha) yang tersebar di dua desa di Kecamatan Pecangaan.
Menurut Haji Sahlan, saat itu penggunaan pestisida untuk mengatasi
serangan wereng di desanya masih sembarangan dan tidak sesuai dengan
hama sasarannya. “Angger wong ngomong yo iku sing digawe (setiap omongan
orang, ya itulah yang dipakai petani-red). Petani sudah tidak
memikirkan itu benar atau tidak, mahal atau murah, sing penting piye
carane ngatasi wereng (yang penting bagaimana cara mengatasi wereng,”
ujarnya.
Lantaran belum adanya sosialisasi
dan arahan yang tepat mengenai pengendalian hama wereng, termasuk
penggunaan pestisida yang tepat sasaran, itulah yang membuat hampir
semua petani padi di wilayah Karangrandu mengalami gagal panen.
Beruntung bagi Haji Sahlan, tanaman padinya masih bisa selamat meskipun
tidak semuanya bisa dipanen.
Lain dulu,
lain sekarang. Kini Haji Sahlan sudah memiliki ‘senapan’ baru untuk
mengatasi serangan wereng. Semenjak mengenal Paket Pestisida Antiwereng
dari Cap Kapal Terbang yang berisi insektisida
Winder 100EC dan
Promectin 18EC,
ia mengaku tidak perlu risau lagi saat menghadapi serangan hama
tersebut. Ia sendiri termasuk pecinta produk pestisida dari merek dagang
yang diusung oleh PT. Tanindo Intertraco ini.
“Pokoke
angger Cap Kapal Terbang kulo mesti oke (pokoknya asalkan dari Cap
Kapal Terbang saya pasti oke),” ujar petani berumur 62 tahun ini.
Sebelum menggunakan Paket Antiwereng tersebut, ia biasa menggunakan
insektisida Promectin ataupun Trisula untuk mengatasi serangan hama pada
tanaman padi miliknya.
Meskipun harga
paketnya sedikit lebih mahal dari pestisida yang lain, hal itu bukan
suatu masalah bagi Haji Sahlan. Ia mengibaratkannya dalam istilah Bahasa
Jawa “kalah tuku, menang ngganggo”, atau dengan kata lain, meskipun
harganya lebih mahal, tapi keampuhannya luar biasa. Bahkan, dari hasil
perhitungannya sendiri, dengan menggunakan Paket Antiwereng itu ia
justru bisa lebih menghemat biaya penyemprotan hingga separonya.
“Hasil
akhirnya kita malah bisa berhemat. Karena memang lebih ampuh. Biasanya,
dengan pestisida lain butuh empat kali semprot, tapi dengan (Paket)
Antiwereng ini cukup dua kali saja,” tutur Haji Sahlan.
Ia
pun menggunakan Paket Antiwereng tersebut di saat intensitas serangan
hama wereng coklat lebih tinggi. Di saat intensitas serangannya
biasa-biasa saja, ia cukup menggunakan insektisida Trisula untuk
mengendalikan. “Saya pakai Paket Antiwereng ini kalau pas parah saja.
Kalau kondisinya biasa, ya saya cukup pakai Trisula,” ungkap Haji
Sahlan.
Sangat cespleng
Keampuhan Paket
Pestisida Antiwereng tersebut juga diakui oleh para petani padi di
Demak, Jawa Tengah. Seperti, Ahmad Sohib, Masruri, dan Sukri dari Desa
Surodadi, Kecamatan Gajah, Demak. Mereka sudah menggunakan paket
pestisida tersebut selama dua musim terakhir.
“Alhamdulillah,
dengan adanya Paket Antiwereng, upaya petani di sini dalam mengatasi
serangan wereng menjadi lebih ringan. Paket ini memang senjata yang
sangat cespleng (manjur-red), terutama untuk serangan wereng yang
parah,” ungkap Ahmad Sohib yang juga Ketua Kelompok Tani Sidoasih Desa
Surodadi.
Dengan menggunakan dua
insektisida dengan bahan aktif yang berbeda, yaitu: Winder 100EC yang
berbahan aktif Imidakloprid 100 g/L dan Promectin 18EC yang berbahan
aktif Abamektin 18 g/L, serta didaya berantasnya menjadi lebih optimal.
Menurut
Masruri, petani di daerahnya biasa melakukan penyemprotan Paket
Antiwereng saat mulai ada serangan sampai dengan sesaat menjelang panen.
“Semprotnya seminggu sekali dengan dosis satu tutup per tangki,”
ujarnya.
Selain karena penggunaan
pestisida yang benar dan tepat sasaran, keberhasilan petani padi di
Surodadi dalam mengendalikan serangan wereng coklat juga ditentukan oleh
pengelolaan tanaman di wilayah mereka yang sudah teratur.
“Petani
di sini sudah menerapkan sistem tanam serempak, ya kalaupun ada selisih
penanaman, maksimal sepuluh hari. Koordinasinya juga sudah bisa
terjalin baik di antara masing-masing petani. Sehingga kalau ada
permasalahan bisa segera diatasi dengan baik. Alhamdulillah, saat di
beberapa daerah mengalami gagal panen karena serangan wereng, wilayah
kami tidak ada yang sampai gagal panen,” ujar Sohib yang mengkoordinir
para petani di Surodadi.